Biodiversitas,
Resilience dan Kelestarian Ekosistem
Merapi
Oleh
: Nurpana Sulaksono
Nilai
Penting Biodiversitas dan Hutan
Biodiversitas,
menurut Convention on Biological Diversity (CBD) adalah keanekaragaman sejumlah
organisme/mahkluk hidup baik yang berada
di darat dan perairan mulai dari
variasi gen, jenis, dan ekosistem pada suatu wilayah. Istilah diodiversity pertama
kali dikenalkan oleh E.O Wilson di suatu literatur yang terbit pada tahun 1988.
Sedangkan konsep terkait biodiversitas mulai dikenal sejak abad ke-19 dan
kemudian mulai dikenal luas sampai sekarang. Pengertian ini sejalan dengan
definisi yang dibuat oleh Rawat dan Agrawal (2015) yaitu “the variety of different forms of life on earth, including the
different plants, animals, microorganisme, the genes they contain and the
ecosystem they form. It refers to genetic variation, ecosystem variation,
species variation (number of species) within an area, biome or planet”. Berdasarkan pengertian ini diketahui bahwa
semua mahkluk hidup di darat dan perairan baik yang berupa hewan tumbuhan,
mikroorganisme, bakteri ataupun jamur
merupakan bagian dari biodiversitas. Istilah biodiversitas dikenal secara
umum dengan nama keanekaragaman hayati.
Hutan
dengan biodiversitas yang terkandung di dalamnya merupakan lingkungan esensial
bagi kelangsungan hidup manusia dan kelangsungan well-being manusia.
Hutan merupakan tempat atau habitat bagi 2/3 seluruh spesies tumbuhan dan hewan
(Belvaux dkk, 2009). Biodiversitas berkontribusi langsung terhadap 40% ekonomi
dunia, khususnya pada sektor pertanian dan kehutanan, dan menyediakan jasa
ekosistem berupa air bersih dan kesuburan tanah. Tujuh puluh persen (70%)
masyarakat miskin di dunia yang hidup di daerah pedesaan (rural areas)
kebutuhannya bergantung secara langsung pada biodiversitas bagi kelangsungan
hidup (seperti kebutuhan pangan dan minum) dan kelangsungan well-being
(kelayakan hidup) mereka (Belvaux dkk, 2009).
Kunci
kelestarian hutan adalah melestarikan biodiversitas yang terdapat di dalamnya
(Hagan dan Whitman, 2006). Semakin tinggi tinggi nilai biodiversitas dalam
suatu ekosistem maka akan semakin meningkatkan fungsi ekosistem tersebut. Hal
ini dikarenakan biodiversitas memiliki
korelasi posistif dengan fungsi ekosistem (Patel dan Weynand, 2002). Fungsi
ekosistem dapat diartikan sebagai jumlah keseluruhan proses yang terjadi pada
level ekosistem dan pada level di bawahnya seperti siklus materi, siklus unsur
hara, siklus energi. Selanjutnya Patel dan Weynand (2002) menyebutkan bahwa
memahami signifikansi biodiversitas pada fungsi ekosistem membutuhkan pemahaman
terhadap 4 konsep kunci, yaitu:
1) Level
organisasi biologi dan ekologi beserta interaksi antar mereka,
2) Jumlah
unit biologi yang berbeda pada setiap level organisasi,
3) Pengaruh
dan derajat kesamaan peranan antara unit biologi dengan ekologi,
4) Konfigurasi
spasial unit-unit biologi dan ekologi.
Secara argumentatif
dan berangkat dari perspektif teori, hilangnya satu spesies pada sistem
(ekosistem) yang interkoneksi antar elemennya sangat tinggi dengan jaringan
rantai makanan yang acak (random) akan berakbiat pada hilangnya 13 spesies
lainnya (Patel dan Weynand, 2002). Selanjutnya Patel dan Weynand (2002) pada
bagian lain menyebutkan bahwa dengan demikian kita membutuhkan pengetahuan yang
tidak saja mampu memberi tahukan kapan suatu gangguan dapat memberi tekanan
terhadap ekosistem dan mengarah pada penurunan biodiversitas, namun juga kapan
suatu penurunan biodiversitas dapat menjadi sinyal bagi akan runtuhnya (collapse)
suatu sistem, dan kapan runtuhnya ini menjadi bagian dari siklus yang mengarah
pada regenerasi dan pembaharuan.
Biodiversitas
dan gangguan ekosistem merapi
Kawasan Gunung Merapi ditunjuk menjadi Taman
Nasional Gunung Merapi pada tahun 2004 melalui Keputusan Menteri Kehutanan
Nomor : SK.134/Menhut-II/2004 tanggal 04 Mei 2004. Pertimbangan yang menjadi
dasar penunjukkan ini dikarenakan kawasan Gunung Merapi merupakan Daerah
tangkapan air utama yang memberikan pasokan air bersih bagi daerah pemukiman
dan pengairan lahan-lahan pertanian di DIY dan Jawa Tengah. Selain itu, kawasan
Gunung Merapi memiliki potensi
biodiversitas yang khas karena terletak pada gunung berapi yang masih aktif dan
memiliki kondisi alam yang masih alami sehingga sesuai untuk wisata alam,
pendidikan dan bisa dimanfaatkan sebagai wisata budaya yang menarik minat
wisatawan.
Biodiversitas Kawasan Taman Nasional (TN)
Gunung Merapi adalah semua mahkluk hidup baik flora ataupun fauna yang berada
di dalam kawasan TN Gunung Merapi. Keberadaan biodiversitas ini sangat
tergantung dengan kondisi fisik, sosial dan sejarah pengelolaan kawasan TN
Gunung Merapi. Kondisi fisik, sosial dan sejarah pengelolaan tersebut
menyebabkan perbedaan kondisi ekosistem beserta species penyusunnya. Merujuk pada Buku Flora Pegunungan Jawa (Edisi Indonesia)
karangan C.G.G.J. van. Steenis Tahun 2006,
tumbuhan di Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi tumbuh pada zona– zona
sebagai berikut :
1. Zona Tropis Sub
Zona Bukit di ketinggian 500 m – 1.000 m dpl.
2. Zona Pegunungan Sub
Zona Sub Pegunungan (Sub Montana) di ketinggian 1.000 m – 1.500 m
dpl. Pada zona ini hutan tertutup, berbatang pohon tinggi dan miskin akan
lumut.
3. Zona Pegunungan (Montana) di ketinggian 1.500 - 2.400 m
dpl. Pada zona ini hutan tertutup pohon tinggi di atas elevasi 2.000 m, dengan
diameter batang yang bertambah kecil dan lumut yang bertambah banyak.
4. Zona Sub Alpin di ketinggian di atas 2.400 m dpl. Pada zona ini
vegetasi berupa hutan rendah dengan pohon tinggi menyendiri, sering berlumut
atau terdapat Konifera.
Beragamnya tipe zona
ekosistem di kawasan Gunung Merapi, menjadikan kawasan tersebut memiliki
kekayaan flora dan fauna yang beragam. Balai TNGM (2016) telah melakukan
identifikasi dan ditemukan kurang lebih sejumlah 300 jenis tumbuhan ada di
kawasan yang terdiri dari pohon, perdu/ herba, semak, paku-pakuan, anggrek,
lumut dan jamur. Sedangkan jenis satwa yang hidup di lereng merapi sekitar 357
jenis yang terdiri atas 15 mamalia, 171 burung, 24 jenis reptil, 17 amfibi, 128
jenis serangga dengan 85 jenis diantaranya kupu-kupu, juga terdapat jenis siput
dan cacing. Mamalia dilindungi diantaranya Macan tutul (Panthera pardus), Kucing hutan (Felis
bengalensis), Kijang (Muntiacus
muntjak) dan dari jenis primata Lutung Jawa (Trachypithecus auratus), sedangkan Elang Jawa (Nizaetus bartelsi) menjadi flagship
dan key species atau spesies kunci kawasan hutan Merapi
Kekayaan species tumbuhan dan hewan di Kawasan Gunung
Merapi tersebut mengalami gangguan yang disebabkan oleh faktor alam dan
manusia. Gangguan faktor manusia seperti : aktivitas perumputan, pengarangan,
perencekan, illegal logging,
perambahan, penambangan pasir dan kebakaran hutan. Sedangkan gangguan alam
berasal dari erupsi Gunung Merapi. Gangguan paling besar berasal dari erupsi
yang terjadi pada tahun 2010. Peristiwa
tersebut telah menyebabkan sebagian
besar kawasan Taman Nasional Gunung Merapi mengalami kerusakan ekosistem dengan
tingkatan bervariasi, yaitu : i) rusak berat seluas ± 1242,16 ha (20,21% dari
luas total kawasan); ii) rusak sedang seluas ± 1207,91 ha (19,66% dari luas
total kawasan); dan iii) rusak ringan seluas ± 2543,94 ha (41,40% dari luas
total kawasan). Gangguan tersebut menyebabkan ekosistem kawasan TN Gunung
Merapi menjadi sangat dinamis. Dinamika ini bisa dilihat dari komposisi dan
struktur vegetasi penyusun ekosistem yang sangat beragam di setiap unit
ekosistem terkecil. Selain itu juga
dapat dilihat dari munculnya species invasif di daerah terdampak
erupsi. Dinamika ini akan terus
berkembang dengan harapan dapat menuju keseimbangan ekosistem baru yang sehat,
stabil dan unggul seperti kondisi sebelum mengalami gangguan.
Resilience Ekosistem Merapi
Resilience pertama kali diperkenalkan oleh Holling
pada tahun 1973 dengan pengertian “a
ability of ecosystem to absorb changes in the state variables, driving
variables, and parameters and continue to exist”. Carpenter and walker
(2001) memberikan definisi “capacity of an ecosystem to return to its
more or less exact pre disturbance”.
Walker et al (2004) kemudian mengembangkan pengertian resilience yaitu “
The capacity of an ecosystem to return
to the pre condition state following perturbation, including maintaining its essential characteristics
taxonomic composition, structure, ecosystem function and process rates”. Berdasarkan beberapa pengertian terkait resilience, hal penting yang bisa digaris bawahi adalah kemampuan
ekosistem untuk kembali ke kondisi semula seperti sebelum terjadi gangguan atau
kemampuan ekosistem untuk menyerap segala gangguan yang terjadi pada ekosistem
tersebut. Pertanyaan yang kemudian
muncul adalah bagaimana ekosistem tersebut menyerap gangguan yang ada ?. atau,
bagaimana cara ekosistem bisa kembali seperti kondisi sebelum terjadinya
gangguan?. Pertanyaan yang sederhana namun sulit untuk menjawabnya.
Suatu
ekosistem mungkin memiliki tingkat resilience
yang tinggi tapi memiliki daya pulih yang lambat dalam menghadapi gangguan.
Namun juga ada ekosistem yang memiliki tingkat resilience rendah namun memiliki
daya pulih yang cepat. Oliver dkk (2017)
telah melakukan penelitian dan membagi tingkat resilience menjadi 3 (tiga) pola yaitu :
1. Pola
Ketahanan Tinggi, Pemulihan Lambat
Pada pola ini, ketahanan ekosistemnya
tinggi namun daya pulihnya relatif lambat. Ketahanan ekosistemnya mampu
mengantisipasi berbagai gangguan lingkungan mulai dari tingkat ringan hingga
sedang (garis ketahanan ekosistemnya tetap berada di atas ambang batas minimal
ketahanan ekosistem sebagaimana ditunjukkan pada gambar 1a di bawah), namun
tidak mampu menahan gangguan berat. Tatkala mengalami gangguan berat barulah
ambang batas minimal ketahanan ekosistem terlampaui.
2. Pola
Ketahanan Rendah/rentan, Pemulihan Cepat
Pada pola ini, ketahanan ekosistemnya
tergolong rapuh atau rentan terhadap perubahan lingkungan. Hampir setiap
gangguan lingkungan mulai dari tingkat ringan hingga berat menyebabkan garis
ketahanan ekosistemnya melampaui ambang batas minimal (sebagaimana ditunjukkan
oleh gambar 1b). Namun, kelemahannya tersebut terkompensasi oleh daya pulih
yang relatif cepat sehingga garis ketahanan ekosistemnya cepat kembali ke
posisi di atas ambang batas minimal ketahanan ekosistem pasca gangguan.
3. Pola
Ketahanan Rendah/rentan, Pemulihan Lambat
Pola ini menggambarkan ketahanan
ekosistem yang rentan terhadap berbagai tingkat gangguan mulai dari tingkat
ringan hingga berat (garis ketahanan ekosistemnya relatif mudah melewati ambang
batas minimal ketahanan) dan sayangnya daya pulihnya relatif lambat (butuh
waktu ekstra agar garis ketahanan ekosistemnya kembali ke posisi di atas ambang
batas minimal ketahanan).

Daya lenting setiap unit
ekosistem tentunya berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Salah satu
faktor yang memiliki peran penting dalam menghadapi perubahan ekosistem dan
meningkatkan resilience adalah
biodiversitas (Peterson et al. 1998). Biodiversitas dibangun oleh beberapa
komponen antara lain:
1.
Diversitas/ keragaman genetik
Keanekaragaman
atau variasi genetik di dalam suatu populasi spesies memiliki arti penting
sebagai dasar seleksi alam-genotip (genotype
natural selection) tatkala populasi spesies melakukan respon atau adaptasi
terhadap suatu gangguan atau perubahan. Oleh karena itu, sangat penting untuk
dipahami bahwa keanekaragaman genetik dan kapasitas (kemampuan) adaptif suatu
ekosistem hutan bergantuung pada variasi genetik in-situ yang terdapat pada
suatu populasi spesies.
2.
Keragaman spesies
Semakin
tinggi tingkat keragaman biodiversitas, semakin tinggi pula tingkat
produktivitas dari ekosistem hutan tersebut. Species yang beragam akan semakin
meningkatkan fungsi dalam produktivitas ekosistem hutan. Punahnya satu spesies
dalam satu ekosistem, akan bisa digantikan fungsinya oleh spesies yang lain
jika kondisi keragaman spesies dalam ekosistem tersebut tinggi.
3. Struktur
vegetasi yang meliputi ketinggian, kerapatan, kompleksitas.
Beragamnya strata dan struktur hutan,
semakin meningkatkan resilience hutan
dalam menghadapi gangguan. Lengkapnya strata tajuk dan komposisi tegakan akan
membuata hutan memberikan respon yang beragam dalam menghadapi gangguan.
4.
Umur hutan
Semakin tua umur hutan, maka
semakin tinggi tingkat resilience
hutan tersebut. Hal ini dikarenaka semakin tua umur hutan semakin stabil dan
mendekati pada kondisi homeostasis.
5.
Kelompok fungsional (Functional Groups), yaitu pengelompokkan
spesies berdasarkan fungsi dan peranannya pada suatu ekosistem seperti peranan
sebagai polinator, produksi, dekomposisi, dan lain-lain. Contoh kelompok
fungsional untuk kategori polinator adalah beberapa jenis burung, kelelawar,
dan serangga yang dimasukkan ke dalam kelompok fungsional yang sama sebagai
polinator. Tanpa peranan polinator sama sekali maka akan banyak jenis tumbuhan
maupun tanaman yang tidak mampu melakukan reproduksi.
Berdasarkan
hal tersebut, maka makalah ini mencoba melihat hubungan keterkaitan antara
biodiversitas, resilience dalam
menghadapi gangguan alam dan manusia di kawasan Hutan Konservasi Gunung Merapi.
Hal ini diharapkan bisa menjadi dasar pemikiran secara teroritis dalam
melakukan intervensi pengelolaan kawasan TN Gunung Merapi. Sebagaimana di tulis
oleh Holmes (2008), bahwa intervensi
pengelolaan dapat dilakukan di awal (prevention), pada waktu kejadian gangguan
atau sesudah gangguan alam terjadi. Intervensi dilakukan untuk mengurangi
kemungkinan resiko terhadap kondisi alam yang tidak diingingkan atau mengurangi
dampak negatif terhadap kondisi alam yang tidak diharapkan.
Penutup
Memelihara
biodiversitas dalam suatu ekosistem merupakan faktor penting dalam memelihara
tingkat resilience (ketahanan) ekosistem (Thompson, 2011). Hal ini dikarenakan
biodiversitas memiliki hubungan yang erat terhadap produktivitas ekosistem,
resilience, resistensi dan stabilitas ekosistem di setiap waktu dan tempat
(Thompson, 2011). Semakin tinggi tingkat biodiversitas pada suatu ekosistem,
akan semakin meningkatkan resilience ekosistem tersebut dalam menghadapi/
merespon gangguan yang terjadi.
Pada
ekosistem Gunung Merapi, gangguan terbesar bersumber dari erupsi. Gangguan ini
tidak terlepas dari keberadaan Gunung Merapi sebagai Gunung Api Aktif yang
mengalami erupsi secara periodik. Gangguan tersebut tentunya akan mengancam
kerusakan ekosistem. Untuk itu diperlukan suatu intervensi pengelolaan untuk
meningkatkan resilience melalui
peningkatan biodiversitas pada berbagai skala dan level ekosistem, dari
genetik, spesies, populasi, komunitas, ekosistem, dan bentang lahan. Sebagai
harapan realistis, kelestarian ekosistem Gunung Merapi dapat terwujud.
Tinjauan Pustaka
1.
_________,
2017. Statistik Balai Taman Nasional Gunung Merapi 2016. Balai TNGM.
2.
Belvaux, E. et al,. 2009. A Good
Practice Guide Sustainable Forest Management, Biodiversity And Livelihoods.
Convention on Biological Diversity.
3. Carpenter,
SB,. Walker,jM. 2001. From Metaphor to Measurement:Resilience of what to what
?. Ecosystems 4:765-781
4.
Holling
C., S. 1973. Resilience and Stability of Ecological System. Annual R eview of
Ecology And Systematic, Vol. 4, 1-23
5. Indriyanto,.
2012. Ekologi Hutan. Bumi Aksara. Jakarta
6.
John M. Hagan and
Andrew A. Whitman,. 2006. Biodiversity Indicators for
Sustainable Forestry: Simplifying Complexity. Journal of Forestry.
7. Oliver
et al,. 2017. Biodiversity and resilience of ecosystem functions. Elsevier
8.
Peterson
G, Allen CR, ad Holling CS. 1998. Ecological Resilience, Biodiversity, and
Scale. Ecosystem 1:6-18
9.
Rawat
US, Agarwal NK,. 2015. Biodiversity: Concept, threats and conservation.
Environment Conservation Journal 16 (3) 19 – 28
10.
Standish
RJ, et al. 2014. Resilience in Ecology: Abstraction, Distraction, or Where The
Action Is ?. Biological Conservation 177 : 43 – 51
11.
Toral
Patel and Weynand,. 2002. Biodiversity
and Sustainable Forestry: State of the Science Review 2002. The National Commission on Science for
Sustainable Forestry Washington, DC
12.
Thompson,
2011. Biodiversity, Ecosystem Treshold,
Resilience and Forest Degradation. Unasylva 238 Vol 62
13.
Thompson
I., Mackey, B., Mcnulty, S., Mosseler, A. 2009. Forest Resilience,
Biodiversity, and Climate Change. A Synthesis of the Biodiversity/ Resilience/
Stability Relationship in Forest Ecosystem. Secretariat of The Convention on
Biological Diversity, Montreal. Technical Series no 43.
14.
Walker
BH. 1992. Biological Diversity and Ecological Redundancy. Cons Biol 6: 18 - 23
Komentar
Posting Komentar