Pengembangan Hutan Wisata, TN Gunung Merapi



Pengembangan Hutan Wisata Telogo Muncar dan Nirmolo

Resort Pakem Turi, SPTN I Magelang – Sleman Balai TNGM



Oleh :

Nurpana Sulaksono




Kaliurang merupakan destinasi wisata utama di Provinsi Yogyakarta. Suasana asri, sejuk dan panorama Gunung Merapi merupakan daya tarik yang bisa dinikmati. Keberadaan hutan yang masih alami dan keberadaan Kera Ekor panjang (Macaca fascicularis) menjadikan wisata kaliurang semakin menarik. Walaupun terkadang keberadaan kera ekor panjang yang suka mengganggu menyebabkan pengunjung takut namun juga tidak sedikit pengunjung yang juga suka dan gemes dengan tingkah laku satwa tersebut. Keberadaan arena bermain, pusat kuliner dan museum  menjadikan Kaliurang semakin banyak diminati oleh wisatawan baik domestik ataupun luar negeri. Cukup banyak dijumpai rombongan wisatwan yang berkunjung di kaliurang walaupun hanya jalan jalan menikmati keindahan alam ataupun hanya ingin merasakan kuliner tradisional yaitu sate kelinci, wajik ataupun jadah. Ada yang mengatakan bahwa kunjungan ke kaliurang tidak akan lengkap tanpa merasakan nikmatnya jadah kaliurang. Makanan yang terbuat dari campuran ketan dan kelapa yang ditumbuk sedemikian rupa sehingga menciptakan cita rasa yang gurih dan nikmat.   

Salah satu destinasi wisata kaliurang yang juga banyak dikunjungi oleh wisatawan yaitu wisata alam Telogo Muncar dan Telogo Nirmolo. Cukup merogoh kocek Rp. 2000 (duaribu rupiah) wisatawan sudah bisa melakukan jungle tracking menikmati keindahan dan keasrian hutan wisata. Tegakan pohon yang menjulang tinggi, tutupan tajuk yang menyejukkan dan kicauan burung yang mententramkan merupakan kenikmatan alam khas yang bisa dirasakan oleh pengunjung. Pengunjung yang terarik dengan wisata sejarah dapat melakukan tracking menuju Goa Jepang yang berjarak kurang lebih 600 m dari pintu masuk Telogo Nirmolo. Goa jepang adalah  peninggalan Perang Dunia II yang merupakan tempat persembunyian pasukan jepang dari serbuan udara pasukan sekutu pada tahun 1942 – 1945.

Tidak hanya itu, pengunjung yang tertarik menikmati matahari terbit (sunrise) dengan latar belakang Gunung Merapi dapat menuju puncak plawangan yang ditempuh kurang lebih 1 jam dari dari pintu gerbang.  

Lain halnya dengan telogo Nirmolo, Telogo Muncar menyajikan atraksi wisata berupa air terjun. Pada masa kepemimpinan Sri Sultan HB Ke-VIII, air terjun Telogo Muncar merupakan tempat pemandian para bangsawan. Banyak bangsawan datang ke air terjun ini untuk mandi, rekreasi keluarga ataupun untuk mencuci pusaka. Sri Sultan HB X juga menggunakan air dari air terjun ini untuk melaksanakan acara siraman pengantin putrinya.   Namun sayang, pasca erupsi 2010 debit air terjun tersebut mengalami pengurangan dan bahkan tidak mengalir sama sekali. Banyak pengunjung yang kecewa karena sudah tidak bisa lagi menikmati gemericik dan sejuknya air terjun telogo muncar.

Erupsi 2010 tidak hanya merusak sumberair air terjun muncar tapi juga merusak vegetasi dan sarpras yang ada. Banyaknya pohon kering adalah salah satu contoh kerusakan yang terjadi. Kurang lebih terdapat 200 pohon  kering di hutan wisata telogo muncar yang sampai saat ini masih berdiri dan memerlukan perhatian. Selain membahayakan pengunjung yang datang, keberadaan pohon kering tersebut juga memberikan pandangan yang kurang menarik. Keberadaan sarpras yang rusak juga memberikan andil tersendiri terhadap ketidaknyamanan  di kawasan hutan wisata tersebut. Jalur tracking yang terputus tertutup oleh longsoran batu, shelter yang rusak dan beberapa bangunan yang dalam kondisi sangat memprihatinkan.

Perlu suatu upaya lebih untuk dapat memperbaiki dan mengembalikan kembali hutan wisata ini seperti semula. Terbatasnya sumber daya pengelola dan terbatasnya anggaran yang tersedia untuk hutan wisata tersebut juga menjadi PR yang harus diselesaikan. Disalah satu sisi pemerintah menargetkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Balai Taman Nasional Gunung Merapi sebagai pengelola hutan wisata tersebut naik sebesar 150 % dari Rp.150.000.000 (seratus lima puluh juta) menjadi Rp. 450.000.000 (empat ratus lima puluh juta).

 Tulisan ini akan memfokuskan pada strategi pengembangan kawasan wisata tersebut sehingga dapat menjadikannya sebagai tujuan wisata utama Provinsi Yogyakarta  dengan didasarkan pada pengelolaan berbasis pendidikan konservasi.



Strategi Pengembangan

Berdasarkan hasil analisis SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity dan Threat) terhadap kondisi yang ada, terdapat beberapa strategi pengembangan yang bisa dilakukan antaranya :

1.    Memperkuat konsep ekowisata Telogo Muncar dan Nirmolo. Konsep yang kuat dan jelas akan dapat meningkatkan nilai ekonomis kawasan dan memberikan daya tarik bagi pengunjung. Keberadaan hutan dengan keanekaragaman flora dan fauna serta panorama Gunung Merapi bisa memberikan kekuatan yang hebat jika dipadukan dengan peluang kota yogya sebagai kota pendidikan. Salah satu konsep wisata yang direkomendasikan adalah “ berwisata sambil belajar konservasi”. Hal ini tidak terlepas dari kharakteristik kota yogya yang merupakan kota pendidikan.  Muatan pendidikan konservasi yang dikemas dalam konsep wisata tentunya akan memberikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Bagaimana wisatawan dapat mengenal flora, fauna beserta teknik pengamatannya dan juga semakin mengenal Gunung Merapi mulai dari sejarahnya sampai aktivitasnya. 

2.    Menjalin kerja sama dengan berbagai pihak mulai dari masyarakat sekitar, agen wisata di seluruh Indonesia, sektor wisata dan instansi terkait. Hal ini untuk mengatasi permasalahan terbatasnya  sumber daya manusia yang mengelola kawasan wisata tersebut. Salah satu strategi yang bisa dikembangkan yaitu dengan membuat paket wisata pendidikan konservasi untuk pelajar (SD, SMP dan SMU) dan mahasiswa. Dimana masyarakat sekitar bisa diikutsertakan menjadi pemandu wisata. Adanya kerja sama ini akan menciptakan hubungan saling menguntungkan sehingga semangat kebersamaan mempromosikan, mengembangkan dan melestarikan akan terwujud.

3.    Mendorong partisipasi masyarakat sekitar. Sebagian besar penjual makanan dan handycraft disekitar kawasan wisata adalah masyarakat lokal. Terdapat kurang lebih 100 penjaja makanan, souvenir dll yang setiap hari melakukan aktivitas di tempat wisata ini.  Wisata tidak akan berhasil tanpa adanya partisipasi mereka semua. Sehingga, salah satu bentuk partisipasi masyarakat yang perlu didorang adalah ikut bersama dalam menjaga keamanan, ketertiban dan kenyamanan pengunjung. 

4.    Menyediakan atraksi wisata menarik bagi wisatawan. Atraksi wisata merupakan salah satu daya pikat untuk menarik wisatawan untuk datang. Atraksi wisata yang saat ini menjadi masalah adalah tidak adanya sumber air yang mengalir pada air terjun di Telogo Muncar. Pembuatan pompa penarik air dan mengalirkannya ke air terjun adalah salah satu solusi yang dapat dilakukan. Penambahan atraksi wisata lain seperti lokasi outbond, rumah pintar, shelter, pusat informasi dan penataan jalur wisata menuju bukit pronojiwo  dan pengembangan pusat informasi  perlu segera direalisasikan.

5.    Melakukan promosi secara gencar. Promosi dapat dilakukan dengan membuat berbagai bentuk media promosi seperti leaflate, video singkat, papan informasi dan media cetak ataupun media elektronik. Promosi melalui sosial media juga perlu segera direalisasikan seperti melalui facebook, twiter, instagram, youtube, kaskus dsb. Bentuk promosi ini yang saat ini banyak dilakukan oleh pelaku usaha. Selain biaya yang murah juga bisa menjangkau semua kalangan pemakai sosial media.

6.    Menjalin kerja sama  unit kegiatan mahasiswa (UKM)  dan pelajar se yogyakarta untuk senantiasa berkegiatan di hutan wisata Telogo Muncar dan Nirmolo. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan potongan/ diskon khusus jika melakukan kegiatan di hutan wisata tersebut. Pelaksanaan diklat diklat dan pendidikan konservasi seperti kegiatan penanaman dan eksplorasi juga bisa alternatif cara yang baik. Selain mendapat pengetahun tentang konservasi, mahasiswa juga dapat berrekreasi.    

7.    Meningkatkan motivasi dan keterampilan pengelola. Pengelola disini adalah semua pegawai Balai TNGM baik pejabat struktural, fungsional, tenaga upah/ kontrak.  Motivasi adalah hal penting yang harus dimiliki. Motivasi akan membentuk mimpi yang akan menumbuhkan semangat pegawai untuk bekerja. Mimpi dan semangat akan membentuk pribadi kreatif yang tidak akan mudah menyerah dalam menghadapi segala permasalahan pengelolaan kawasan wisata. Semangat akan semakin terarah ketika keterampilan/ skill juga ditingkatkan. Cara cara pelayanan prima kepada pengunjung adalah salah satu yang wajib ditingkatkan. Selain itu juga kemampuan pengelola dalam “membaca” lingkungan baik itu lingkungan biotik ataupun abiotik sehingga akan semakin menarik wisatawan untuk berkunjung.



Penutup
Tidak ada suatu keberhasilan tanpa suatu usaha. Usaha tidak akan bisa optimal tanpa ada suatu kerja sama. Dan kerja sama tidak akan bisa berjalan baik tanpa suatu kesepahaman tujuan. Selain ketujuh strategi di atas, modal ini yang harus dimiliki dalam mengelola kawasan wisata di Telogo Muncar dan Nirmolo. Dengan harapan, kawasan wisata ini dapat berkembang dan dapat memberikan manfaat bagi semua untuk mewujudkan visi Balai Taman Nasional Gunung Merapi yaitu “ Ekosistem Gunung Merapi Lestari dan Bermanfaat.”

Komentar