Mengembalikan Kejayaan Jurang Jero

Mengembalikan Kejayaan Jurang Jero dengan Community Based Eco-Tourism (CBE)


Oleh :
Nurpana Sulaksono

 
“ Satu konsep yang mungkin untuk dikembangkan dalam mengembalikan Jurang Jero sebagai destinasi wisata yaitu Community Based Ecotourism/ CBE.  CBE adalah pola pengembangan ekowisata yang melibatkan masyarakat setempat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan usaha ekowisata dan segala keuntungan yang diperoleh. “


Wilayah Kali Putih yang berada di kawasan TNGM dikenal dengan nama “Jurang Jero”. Secara administrasi, Jurang Jero berada di Wilayah Kecamatan Srumbung yang merupakan batas dua Desa Yaitu Desa Ngablak dan Desa Ngargosoka. Sebegaimana namanya yaitu “ Jurang Jero”, Jurang yang berarti jurang menganga dan Jero yang berarti dalam maka jurang jero bisa dikatakan sebagai tepian jurang menganga yang sangat dalam. Kepala Desa Ngargosoka membenarkan istilah ini dan mengatakan bahwa nama jurang jero diambil dari kondisi fisik daerah tepian kali putih yang sangat terjal membentuk jurang dan  sangat dalam.
Pertama kali menapakkan kaki di Jurang Jero bayangan pertama yang ada adalah adanya jurang yang menganga dan sangat dalam. Namun kenyataannya, Jurang di tepian kali putih yang sangat dalam sudah tidak ditemukan lagi. Hal ini disebabkam turunnya lahar dingin dari puncak Merapi yang masuk ke hulu Kali Putih menyebabkan kedalaman Kali Putih menjadi semakin dangkal. Saat ini jurang yang sangat dalam tersebut sudah tidak bisa dijumpai lagi. Namun, semua perubahan geofisik yang terjadi di wilayah tersebut tidak membuat nama lokasi tersebut berubah dan masyarakat tetap mengenalnya dengan nama jurang jero..
Berdasarkan informasi dari masyarakat sekitar bahwa pada tahun 1980-an jurang Jero merupakan salah satu destinasi wisata di Kabupaten Magelang. Wisatawan yang melintas dari Yogyakarta - Magelang biasanya menyempatkan mampir untuk menikmati keindahan panorama Gunung Merapi secara langsung. Kesejukan udara dan kerindangan tegakan pohon pinus menambah kenyamanan pengunjung di jurang jero. Maka tidak heran jika Presiden Kedua RI, Bapak Soeharto, pernah mampir dan membuat sebuah prasasti patung dan sebuah Heli pad. Kondisi tersebut cukup membuktikan bahwa dulunya Jurang Jero merupakan kawasan wisata yang layak untuk dikunjungi.
Pasca erupsi 2010, kondisi Jurang Jero sudah mengalami perubahan signifikan. Hijaunya Pohon Pinus dan sejuknya udara pegunungan sudah tidak didapatkan lagi. Jalan rusak dan banyaknya debu menambah kemalasan orang untuk berkunjung disana. Setelah empat tahun berlalu pasca erupsi, satu demi satu pohon sudah mulai tumbuh. Sumber Air yang dahulunya kering sudah mulai mengalir. Kicauan burung sudah mulai terdengar  dan sejuknya udara sudah mulai bisa dirasakan kembali. Semua itu tidak terlepas dari jerih payah Kelompok Tani Jurang Jero Asri, Forum Merapi Merbabu Hijau dan Taman Nasional Gunung Merapi yang bekerjasama dengan masayarakat dalam mengembalikan merapi menjadi hijau. Harapannya, Kejayaan Jurang Jero sebagai destinasi wisata dapat diwujudkan kembali.     
Salah satu konsep yang mungkin untuk dikembangkan dalam mengembalikan Jurang Jero yaitu Community Based Ecotourism/ CBE (Ekowisata berbasis masyarakat).  CBE adalah pola pengembangan ekowisata yang mendukung dan memungkinkan keterlibatan penuh oleh masyarakat setempat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan usaha ekowisata dan segala keuntungan yang diperoleh
.           . 
Mengapa harus melakukan CBE ?
CBE merupakan usaha ekowisata yang menitikberatkan peran aktif komunitas. Komunitas menjadi point penting dalam mengembangkan wisata.  Hal tersebut didasarkan kepada kenyataan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan tentang alam serta budaya yang menjadi potensi dan nilai jual sebagai daya tarik wisata. Pola CBE dapat mewujudkan  harmonisasi pengelolaan wisata antara Taman Nasional Gunung Merapi dengan masyarakat sekitar. Manfaat yang dapat diperoleh dengan  CBE antara lain :
1.      Menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat Desa Ngargosuka, dan mengurangi kemiskinan, di mana penghasilan ekowisata adalah dari jasa-jasa wisata untuk turis: fee pemandu; ongkos transportasi; homestay; menjual kerajinan, dll. Adanya kesempatan kerja ini akan memberikan alternatif pilihan bagi masyarakat Desa Ngargosuka untuk memilih pekerjaan. Harapannya, warga masyarakat desa yang saat ini melakukan aktivitas pengambilan pasir merapi dapat beralih menjadi pegiat wisata dan mendapatkan penghasilan dari wisata.
2.      Ekowisata membawa dampak positif terhadap pelestarian lingkungan dan budaya asli setempat yang pada akhirnya diharapkan akan mampu menumbuhkan jati diri dan rasa bangga antar penduduk setempat yang tumbuh akibat peningkatan kegiatan ekowisata. 
3.      Mengurangi kerusakan di dalam kawasan. Dengan melibatkan masyarakat dalam pengelolaan wisata, maka masyarakat akan ikut serta dalam menjaga kawasan tersebut. Masyarakat akan menjadi “polhut”  dan siap dalam mengamankan kawasan dari kerusakan. Mereka akan menjadi sadar bahwa rusaknya kawasan akan mengurangi nilai kawasan tersebut.
4.      Proses rehabilitasi kawasan Blok Jurang Jero akan semakin cepat. Semakin banyaknya masyarakat yang mendapatkan manfaat dari ekowisata akan menyebabkan semakin banyaknya masyarakat yang akan peduli terhadap kelestarian kawasan. Kondisi ini akan mendorong masyarakat untuk semakin giat mengembalikan ekosistem merapi dengan melakukan rehabilitasi. Sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat Desa Kali Biru, semakin wisata memberikan manfaat kepada mereka akan semakin besar kepedulian dan kecintaan mereka terhadap hutan.


Strategi Pengembangan
Dengan melihat berbagai potensi yang ada di Blok Jurang Jero, Desa Ngargosuko Kecamatan Srumbung, beberapa hal yang mesti dilakukan antara lain :
1.    Memperkuat kelembagaan kelompok tani Jurang Jero Asri. Kelompok Tani Jurang Jero Asri merupakan kelompok tani yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kelestarian kawasan. Kegiatan yang telah dilakukan adalah membuat persemaian secara swadaya dan melakukan penanaman di dalam kawasan taman nasional. Ribuan bibit telah ditanam didalam kawasan dan semuanya itu dilakukan secara swadaya. Kepedulian ini juga diwujudkan dengan melakukan pemadaman hutan ketika terjadi kebakaran hutan pada tanggal 22 sepetember 2014. Potensi penting ini yang perlu dioptimalkan dan diperkuat dengan terus melakukan pendampingan dan pembinaan secara terus menerus sehingga tercipta suatu lembaga yang mantap dan kuat. Kuatnya lembaga adalah syarat pokok yang harus dipenuhi untuk mewujudkan CBE. Seperti yang dilakukan oleh Kelompok Tani Mandiri dalam mengelola HKm yang memerlukan waktu kurang lebih 10 (sepuluh) tahun untuk memperkuat kelembagaan mereka. Hasilnya bisa dinikmati sekarang ini. Wisata alam yang dulunya hanya dikunjungi tidak lebih sepuluh orang setiap harinya saat ini sudah mencapai 4.000 – 6.000 orang setiap bulannya. Kelembagaan kuat dengan didasari  asas kekeluargaan, kegotong royongan dan sikap saling percaya sesama anggota maka pengelolaan CBE sangat mungkin dapat diwujudkan.
2.      Membangun “mimpi” kelompok tani. Mimpi adalah hal penting yang harus dimiliki masyarakat (kelompok tani) untuk dapat membanguan CBE. Adanya mimpi akan memberikan semangat dan motivasi terus bergerak untuk mewujudkannya. Mimpi ini yang harus dibangun bersama dengan melakukan studi banding.  Tanggal 5-6 Desember 2014 Balai TNGM mengajak Kelompok Tani Jurang Jero Asri study banding di Kelompok HKm Mandiri yang telah berhasil mengelola Hutan Kemasyarakatan (HKm) menjadi obyek wisata yang menarik. HKm yang dulunya tandus dan gersang “disulap” menjadi kawasan yang hijau, sejuk dan asri sehingga menarik banyak wisatawan. Walaupun banyak halangan dan rintangan namun semuanya itu dapat dilewati bersama. Pelajaran ini yang perlu diketahui Kelompok Tani Jurang Jero Asri sehingga akan memudahkan dalam menggapai mimpi yang telah dibangun.
3.    Meningkatkan kerja sama dengan berbagai pihak baik pemerintah daerah, pusat, lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat lokal. Pariwisata merupakan kegiatan terintegrasi antara satu institusi dengan institusi yang lain. Pariwisata tidak akan maju tanpa adanya dukungan dari berbagai pihak. Kita memiliki potensi bagus namun tidak didukung dengan aksesbilitas yang baik maka akan percuma. Oleh karena itu perlu melibatkan dinas dan instansi daerah terkait seperti Dinas Pariwisata, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Koperasi dan perdagangan serta pihak pihak swasta untuk pengembangan CBE di Blok Jurang Jero ini.
4.    Memperkuat konsep ekowisata di Blok Jurang Jero. Konsep yang kuat dan jelas akan dapat meningkatkan nilai ekonomis kawasan dan memberikan daya tarik bagi pengunjung. Keberadaan Tugu Soeharto, hutan dengan keanekaragaman flora dan fauna serta panorama Gunung Merapi bisa memberikan kekuatan yang hebat jika dipadukan dengan lokasi jurang jero yang dekat dengan Kota Yogya yang terkenal dengan kota pendidikannya dan Candi Borobudur yang terkenal akan sejarahnya. Salah satu konsep wisata yang direkomendasikan adalah eco-edutourism. Suatu konsep wisata yang memiliki muatan pendidikan lingkungan, konservasi alam yang dipadukan dengan interaksi budaya masyarakat sekitar. Wisata yang dapat memberikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan dapat mengenal flora, fauna beserta teknik pengamatannya dan juga semakin mengenal local wisdom masyarakat melalui budayanya. 


Keempat tahap ini yang tentunya harus terus dikawal dan ditindaklanjuti untuk bisa mengembalikan jurang jero sebagai destinasi wisata. Tahapan yang kelihatan mudah dituliskan namun cukup sulit direalisasikan. Butuh komitmen dan kerja sama yang kuat untuk mewujudkannya. Dan itu semua kembali kepada masyarakat Ngargosoka yang merupakan elemen penting dalam pengembangan CBE. Mengutip konsep dari Mcclelland, 1961 bahwa perkembangan kesejahteraan yang dicapai dalam berbagai masyarakat bukanlah dengan menekankan pada faktor-faktor luar tapi dengan penekanan pada pengaruh motivasi (achievement) dan nilai-nilai manusia itu sendiri karena beberapa hal ini yang menentukan tingkat keberhasilan ekonomi suatu masyarakat. Akhirnya pencapaian keberhasilan CBE kembali kepada masyarakat selaku pihak yang berinteraksi langsung dengan kawasan. 

Komentar