Asal Mula Masyarakat
Tobelo Dalam Blok Tayawi
Oleh : Nurpana Sulaksono,
S.Hut, MT
Asal mula keberadaan MTD sampai
saat ini masih belum diketahu secara pasti. Cukup banyak cerita dan pendapat
mengenai asul usul MTD. Ada pendapat yang menuliskan bahwa MTD bermula dari perang antara bangsa
Portugis dan pasukan Alifuru yang merebutkan rempah rempah yang berada di tanah
Maluku. Awalnya orang Portugis lah yang menguasai perang tersebut, tapi tidak
sampai di situ saja, pasukan Alifuru pun tidak kehabisan akal dengan memakai
lebah-lebah sebagai senjata mereka. Tidak sedikit orang Portugis yang menjadi
korban sengatan lebah-lebah itu. Setelah mengetahui bahwa sengatan lebah
membawa korban banyak untuk Portugis, pasukannya langsung menembakan senjata
yang sangat membabi buta, sampai pasukan Alifuru mundur. Kesempatan ini di
gunakan orang-orang dari bangsa Portugis yang tersisa langsung melarikan diri
dan mereka bermukim di daerah Gunung Hum dan kemudian menamakan daerah
tersebut Rum yang mengisyaratkan bahwa daerah itu adalah tempat tinggal
orang-orang yang berasal dari Rumawi.
Orang-orang Portugis di daerah
Hum/Rum tidak dapat tinggal dengan tenang dikarenakan orang-orang Galela sering
mengusik ketentraman mereka. Mereka pun kemudian memilih hijrah ke daerah
Tobelo dengan menepati bebukitan Karianga arah selatan daerah Wangongira,
Kusuri, Lembah Kao, Batang Sungai Kali Jodo menuju arah Tetewang. Sebagian dari
mereka menetap dan menyatu dengan masyarakat setempat. Untuk menghilangkan
jejak sebagai orang Portugis mereka pun belajar bahasa Tobelo dan berusaha
keras menghilangkan aksen bahasanya. Mereka kemudian hidup bergaul dengan orang
Tobelo dan Kao yang pada akhinya membuat kebanyakan orang Togutil berkomunikasi
dengan menggunakan bahasa Tobelo Boeng dan Modole. Upaya-upaya ini dilakukan
untuk menghindari kejaran pasukan Ternate dan Alifuru terhadap sisa-sisa orang
Portugis di Maluku Utara yang lari ke hutan.
Tetapi juga ada cerita bahwa Suku Togutil itu sebenarnya
penduduk pesisir yang lari ke hutan karena menghindari pajak. Pada 1915
Pemerintah Belanda memang pernah mengupayakan untuk memukimkan mereka di Desa
Kusuri dan Tobelamo. Karena tidak mau membayar pajak, mereka kembali masuk
hutan dan upaya itu mengalami kegagalan.
Berdasarkan
dari uraian di atas dapat diketahui bahwa MTD yang mendiami hutan halmahera di
wilayah tertentu bukan merupakan suku asli wilayah tersebut. Sebagaimana MTD
wilayah tayawi, mereka bukan merupakan suku asli Tayawi. Hal ini bisa dilihat
dari bahasa yang mereka gunakan sehari hari lebih banyak menggunakan bahasa
tobelo dibandingkan bahasa makian atau bahasa tidore. Hal ini menunjukkan bahwa
hubungan kekerabatan mereka lebih dekat berasal dari daerah Tobelo dari pada
Tayawi. Sebagaimana
Pertanyaannya kemudian, mengapa
mereka bisa sampai di Sungai Tayawi ?. MTD sampai dan mendiami di sekitar
sungai Tayawi bermula dari perilaku mereka yang nomaden dalam rangka mencari
hewan buruan atau dikarenakan hal lain yang membuat mereka pindah. Selama
bepindah pindah tersebut sampailah mereka di wilayah Sungai Tayawi yang
memiliki potensi hewan buruan cukup melimpah dan tidak dalam penguasaan suku
lain. Berdasarkan pertimbangan tersebut akhirnya mereka memutuskan untuk
tinggal dan membuat permukiman disekitar sungai Tayawi dan kemudian menjadi
suku penguasa wilayah tayawi.
Berdasarkan hubungan kekeluargaan
yang ada, anggota MTD Sungai Tayawi memiliki hubungan keluarga dengan MTD
Sungai Dodaga di Halmahera Timur. Seperti yang dituturkan Melianus yang
memiliki orang tua dari wilayah Dodaga. Begitu juga yang disampaikan oleh
Antonius dimana waktu kecil istrinya pernah bermukim di wilayah Sungai Dodaga.
Keterangan ini memperkuat bahwa MTD Sungai Tayawi sebagian berasal dari wilayah
Dodaga. Abdullatif, 2009 menuliskan bahwa
orang Togutil Dodaga berasal dari dua tempat, yaitu :
1. Daerah Kao , yakni dari Biang, Gamlaha
& Kao sendiri.
2. Daerah Tobelo, yakni dari Kupa-kupa,
Ufa & Efi-efi.
Dilihat dari bahasa yang digunakan
sesuai hasil penelitian, kelihatannya lebih besar pengaruh bahasa Tobelo Boeng
terhadap suku ini. Orang Togutil Dodaga sebagian besar berasal dari daerah Kao.
Mereka hanya menguasai dan mengerti satu bahasa yaitu bahasa Tobelo walaupun
mereka sejak lama bertempat tinggal di lingkungan yang mayoritas berbahasa
Maba.
Selain berasal dari Dodaga, MTD
Tayawi juga ada yang berasal dari wilayah Sungai Akejira yang terletak di sebelah
timur tayawi, Halmahera Tengah. Kelompok Akejira dan Tayawi sebelumnya memiliki
hubungan kekerabatan namun dikarenakan ada suatu masalah sehingga sampai saat
ini hubungan tersebut menjadi hubungan permusuhan. Kelompok MTD tayawi tidak
bisa melewati wilayah Akejira dan begitu pula sebaliknya. Permusuhan ini
diawali dengan diculiknya perempuan
Akejira yang waktu itu sedang melakukan perburuan di wilayah sungai Tayawi.
Perempuan itu diculik dan dijadikan istri oleh Kahoho yang merupakan ketua suku
MTD wilayah tayawi. Setelah beberapa
tahun menikah perempuan yang diculik tersebut meminta ijin Kahoho untuk menemui
keluarganya di Akejira. Kahoho mengijinkan dan mengantar istrinya pergi menemui
keluarganya. Sampai di Akejira, istrinya tidak mau kembali ke Tayawi bersama Kahoho dan Kahoho diusir paksa oleh MTD wilayah Akejira.
Selama proses pengusiran tersebut terjadi pertarungan yang menyebabkan tewasnya
2 (dua) orang dari wilayah Akejira. Berawal dari peristiwa tersebut antara MTD
Tayawi dan Akejira tidak saling bermusuhan sampai saat ini walaupun dulunya
perbah ada hubungan diantara mereka.
MTD Tayawi juga ada yang berasal dari
wilayah sekitar yaitu Desa Payahe dan Sidanga. Hal ini terjadi dikarenakan
adanya perkawinan antara MTD dengan penduduk sekitar. Terdapat 4 (empat)
pasangan yang suami/ istrinya bukan merupakan keturunan asli MTD yaitu keluarga
Antonius (Suami dari Payahe), Mishak (Istri dari Sidanga), Lepa (Istri dari
Sidanga) dan Dokobus (Istri dari Sidanga).
Berdasarkan
dari hasil data lapangan di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya MTD
Wilayah Tayawi bukan merupakan suku asli wilayah tersebut. Mereka berasal dari
wilayah wilayah lain (Dodaga dan Akejira) yang kemudian membentuk komunitas
baru di wilayah Sungai Tayawi. Komunitas ini terbentuk karena perilaku mereka
yang suka berpindah pindah dan masih menggantungkan terhadap hasil hutan baik
hewan atau tumbuhan. Selain itu mereka juga ada yang berasal dari penduduk
sekitar, Sidanga dan Payahe, yang disatukan oleh hubungan perkawinan. (NPSS)
Komentar
Posting Komentar