Gua Batu


Gua Batu Gosimo Perempuan dan Gosimo Laki -laki


Sebagaimana lazimnya berbagai tempat di pedalaman Indonesia, kelompok masyarakat yang mendiami Dusun Tayawi, Suku Tobelo Dalam, memiliki beberapa tempat yang dikeramatkan seperti batu, gua dsb. Adapun tempat yang dikeramatkan di wilayah Sungai Tayawi adalah Gua Batu Gosimo Perempuan dan Gua Batu Gosimo Laki laki. Makna dari kata Gosimo itu sendiri adalah nenek moyang atau leluhur. Berdasarkan cerita masyarakat setempat, Gua batu ini ditemukan oleh seorang pemuka adat “Joguru” yang tinggal di Payahe. Waktu itu “Joguru” melakukan meditasi di sekitar lokasi gua batu dan kemudian didatangi oleh mahkluk gaib (manusia kornono) yang kemudian memberikan petunjuk keberadaan Gua Batu Perempuan dan Gua Batu Laki laki.
Adapun letak kedua Guabatu tersebut berdekatan. Guabatu Gosimo Perempuan berada tepat di tepi Sungai Tayawi sedangkan Guabatu Gosimo Laki laki berada di daerah perbukitan karst yang menghadap ke sungai. Jarak kedua Guabatu tersebut dari permukiman masyarakat tobelo dalam kurang lebih 1 km dengan menyusuri aliran Sungai Tayawi.
Sampai saat ini kedua Guabatu tersebut masih tetap terpelihara dengan baik. Pada waktu waktu tertentu masyarakat di sekitar taman nasional khususnya masyarakat tayawi dan payahe datang untuk berdoa dengan membawa sesaji dengan harapan-harapannya dapat terkabul.  Selain itu ada pula yang datang dengan tujuan mengucap rasa syukur karena telah terwujud apa yang diinginkannya seperti : sembuh dari penyakit, hasil panen kebun melimpah dsb.  Waktu yang tepat untuk berkunjung dan meminta permohonan di tempat tersebut adalah malam jumat atau hari jumat. Masyarakat percaya jika berdoa pada waktu tersebut semua keinginannya akan dapat terwujud.
Berdasarkan informasi dari masyarakat, di daerah sekitar Gua Batu tersebut dilarang mengambil dan menebang kayu sembarangan. Apabila ada orang yang melanggar maka orang tersebut akan mendaptkan musibah. Seperti yang pernah terjadi beberapa waktu lampau dimana ada seorang yang menebang pohon dan kemudian pohon itu menimpa penebang tersebut. Masyarakat sekitar mempercayai bahwa kejadian tersebut sebagai akibat ulah mereka yang tidak mengindahkan larangan yang ada sehingga menyebabkan “tuan tanah” yang menjaga wilayah tersebut menjadi marah dan murka. (Iwan J. Marasaoly, Dinas Kehutanan Kota Tidore Kepulauan)

Komentar