Mengapa MTD suka berpindah pindah ?
Oleh
: Nurpana Sulaksono, S.Hut, MT
Masyarakat
Tobelo Dalam (MTD) merupakan masyarakat
yang hidupnya sangat tergantung dari sumber daya hutan. Mereka adalah “tuan
tanah” penghuni hutan halmahera. Hutan merupakan rumah tempat mereka melakukan
aktivitas seperti berburu rusa/ babi, berkebun, mencari ikan/udang dan bahkan
aktivitas suami istri. Mereka hidup secara nomaden dan selalu berpindah pindah
dari satu lokasi ke lokasi lain.
Terdapat
tiga macam kehidupan nomaden, yaitu sebagai pemburu-peramu (hunter-gatherers),
penggembala
(pastoral nomads), dan pengelana (peripatetic nomads).
Berburu-meramu adalah metode bertahan hidup yang paling lama bertahan dalam
sejarah manusia, dan para pelakunya berpindah mengikuti musim tumbuhan liar dan
hewan buruan. Tipe nomaden ini yang sesuai untuk menjelaskan kehidupan MTD yang
ada di dalam kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Beberapa hal yang mendorong
mereka berpindah Adanya
anggota komunitas yang meninggal
- Jika ada salah satu anggota dari komunitas MTD yang meninggal maka dianggap lokasi/ wilayah tersebut sudah tidak layak dijadikan tempat tinggal. Mereka beranggapan bahwa orang yang meninggal jiwanya sudah menyatu dengan roh/ arwah jahat yang dapat membawa malapetaka bagi mereka.
- Hewan piaraan (anjing) yang mati. Rahayu dkk 2010, menuliskan bahwa anjing merupakan hewan piaraan yang dianggap paling mulia. Anjing adalah teman setia yang menjaga keselamatan dan membantu MTD dalam mencari kebutuhan nafkah sehari hari. Begitu sayangnya dengan hewan piaraannya mereka rela tinggal berjauhan antara satu keluarga dengan keluarga yang lain. Hal ini untuk menghindari adanya perkelahian antar hewan piaraan. Jika antar hewan piaraan bertengkar maka akan diteruskan dengan pertengkaran antar pemilik sehingga menyebabkan konflik dalam komunitas MTD. Adanya hubungan yang erat tersebut dan adanya anggapan bahwa anjing adalah bagian dari keluarga maka mereka juga memperlakukan anjing seperti manusia. Jika ada anjing yang mati maka mereka juga akan meminggalkan lokasi tersebut dan mencari lokasi baru.
- Terdapat anggota yang sakit kritis dan dianggap tidak memiliki harapan hidup. Anggota komunitas MTD yang menderita sakit kritis dan dianggap sudah tidak bisa disembuhkan lagi akan ditinggalkan komunitasnya. Mereka hanya meninggalkan beberapa buah pisang di dekat anggota yang sakit tersebut. Mereka beranggapan bahwa orang yang sakit dan tidak bisa disembuhkan akan merepotkan komunitas tersebut.
- Keberadaan hewan buruan. Keberadaan hewan buruan merupakan faktor penentu dalam pemilihan suatu lokasi. Selain dekat dengan sungai, tidak didaerah yang kena banjir akibat luapan air sungai, dalam penentuan lokasi pemukiman juga bergantung dari banyak tidaknya hewan buruan di wilayah tesebut. Wilayah hutan yang dianggap sudah tidak ada hewan buruannya akan mereka tinggalkan dan mencari lokasi baru.
Saat ini
MTD sudah mulai mengenal hidup secara menetap. Mereka sudah mulai mengenal
rumah, walaupun masih cukup sederhana. Perubahan ini tidak terlepas dari keberdaaan
masyarakat luar yang sering berinteraksi dengan mereka. Selain itu, mereka
sudah mulai mengenal agama sehingga sistem kepercayaan animisme dan dinamisme sudah
mulai mereka tinggalkan. (NPSS)
|
|
|
|
|
|
Komentar
Posting Komentar